piala dunia 2018

Piala Dunia tanpa Italia

Pertamakalinya Piala Dunia Tanpa Italia

Bukan sepakbola namanya bila tak selalu menghadirkan drama dan kejutan. Hal itu pula yang dialami oleh publik sepakola Italia pada perhelatan piala dunia Rusia 2018. Betapa tidak, kontestan langganan turnamen terbesar sejagat itu harus menerima kenyataan pahit. Ini adalah kali pertamaPiala Dunia tanpa Italia.

Italia mengukir sejarah untuk pertama kalinya tak lolos piala dunia bersama 32 negara lainnya untuk pertama kalinya dalam 60 tahun terakhir. Di pertandingan penentuan melawan Swedia, Italia hanya mampu bermain imbang 0-0. Italia kalah agregat 0-1 pada leg kedua playoff  zona Eropa. Peraih empat tropi emas sepakbola itu, gagal lolos lolos ke piala dunia. Padahal Gli Azzurri bertindak sebagai tuan rumah. Laga ini digelar di Stadion Giuseppe Meazza, November 2017. Pertandingan ini Piala Dunia 2018 harus berlangsung tanpa Italia.

Publik sepakbola dunia harus menerima kenyataan bahwa salah satu tim terbaik sepakbola Eropa gagal melaju ke babak final. Ini bukan hanya membuat para tifosi bola di Italia meradang, tapi juga mengecewakan fans-fans Italia di seluruh dunia. Bahkan ini sekaligus puncak gunung es kegagalan Italia di piala dunia. Dua piala dunia sebelumnya 2010 dan 2014,Italia hanya mampu sampai di babak penyisihan grup dan kali ini justru pertama kalinya Piala Dunia berlangsung tanpa Italia, negara asal permainan sepak bola.

Baca Juga : Pemain Terbaik Sepakbola Asal Korea Selatan

Impian fansItalia melihat ‎Gianluigi Buffon merumput di Rusia pupus seketika. Padahal, khusus untuk sang kapten Gianluigi Buffon, lolos ke piala dunia Rusia 2018 dipersiapkan menjadi  turnamen terakhir internasional bagi dirinya. Rencananya, setelah musim piala dunia Rusia selesai, dia juga akan langsung pensiun. Tapi, ternyata Gianluigi Buffon harus istirahat lebih cepat dari yang direncanakan karena Piala Dunia terpaksa berlangsung tanpa Italia. Tak lolos ke piala dunia Rusia 2018 menjadi pukulan telak kepada dirinya. Buntutnya, Gianlungi Buffon menyatakan mundur dari tim nasional bersama tiga pemain lainnya yakni Giorgio Chiellini, Andrea Barzagli, dan Daniele de Rossi.

Banyak yang tak menduga Piala Dunia kali ini berlangsung tanpa Italia. Materi pemain mereka tak kalah dengan tim-tim Eropa lainnya. Tapi, faktanya lain di lapangan. Pada fase penyisihan grup, Italia bermain seri dan kalah dari Spanyol. Hasilnya, syarat untuk bisa lolos ke Rusia 2018 harus ditentukan di babak playoff.

Lalu apa penyebab Italia tak lolos ke piala duniadi Rusia? Sejumlah kalangan menilai materi pemain Italia belakangan ini kurang maksimal. Nyaris tak ada bintang Italia yang begitu bersinar, utamanya liga domestik Serie A. Beda misalnya dengan skuat Italia beberapa tahun lalu yang dihuni pemain-pemain yang berkualitas. Sebut saja, misalnya, Christian Vieri, Alessandro Del Piero, Filippo Inzaghi, Francesco Totti, dan Roberto Baggio.

Di sektor depan, tim Italia sangat tumpul. Pada rangkaian babak kualifikasi piala dunia, pasangan Andrea Belotti dan Ciro Immobille tak dapat bericara banyak. Produksi gol keduanya melempem. Hanya menghasilkan sepuluh gol sepanjang putaran kualifikasi. Ini hasil yang relatif sangat buruk untuk tim sekelas peraih empat tropi piala dunia yakni pada tahun 2006, 1982, 1938, dan 1934.

Baca Juga : Kapten Timnas Terbaik di World Cup 2018

Kehadiran penyerang penuh kontrovesi, Mario Balotelli dalam skuat tim nasional Italia tak juga membawa perubahan besar. Tak ayal, publik Italia harus rela kehilangan tim kesesayangannya berlaga di piala dunia Rusia  2018. Italia menyusul kegagalan Amerika Serikat dan tim nasional Belanda.

Dari sisi kesiapan, tim nasional Italia seolah kehilangan mental sebagai juara dunia. Padahal, pada saat meraih piala dunia 2006, Italia selalu full power. Mereka mampu menaklukkan Jerman dan Prancis hingga merebut tropi.

Setelah itu, pada piala dunia 2010 dan 2014, Italia seperti kehilangan taji. Mereka bahkan tidak dapat menembus babak 16 besar. Wajar jika kemudian, pada di piala dunia Rusia 2018 tim nasional Italia gagal lolos.

Memang ada sejumlah perubahan saat Italia ditukangi Antonio Conte pada Piala Eropa 2016. Meski dengan pasukan yang tidak menonjol, tapi Italia mampu melaju ke perempat final Piala Eropa 2016. Conte, kala itu konsisten menerapkan pola permainan 3-5-2.

Sialnya, saat Italia ditangani pelatih Giampiero Ventura menghadapi piala dunia 2018, Italia yang sudah solid dengan pola 3-5-2 itu mendapat pembenahan besar. Ventura lebih memilih formasi 4-2-2. Pola ini menjadi boomerang bagi Italia. Barisan pertahanan mereka kerap mudah ditembus oleh lawan-lawannya. Padahal, dalam beberapa dekade, barisan belakangan Italia terkenal sangat sulit dilewati. Tim nasional Italia akrab dengan pola taktis catenaccio.

Memang, tidak lolosnya Italia ke Rusia tak membawa dampak apa-apa bagi publik sepakbola di dunia. Cuma, sangat disayangkan bila negara yang kerap memproduksi pemain berkelas tak dapat hadir di pentas piala dunia.

Malah, negara-negara adikuasa dalam sepakbola memperlihatkan hal yang lebih mengejutkan. Juara bertahan Jerman, misalnya, kandas di babak penyisihan. Ironisnya, Manuel Neuer dan kawan-kawan harus angkat koper lebih dini setelah takluk dari tim non unggulan, Korea Selatan.

Baca Juga : Bandar Judi Bola Online Terpercaya di Indonesia

Rangkaian kejutan juga mewarnai piala dunia Rusia 2018. Belgia, Kroasia, dan Swedia memperlihatkan kelas mereka di Eropa. Bahkan, Kroasia berhasil menapak ke babak final untuk menantang Prancis, meski akhirnya bertekuk lutut 2-4.

Penyebab lain Piala Dunia tanpa Italia juga tak terlepas dari faktor perhatian dari Federasi Sepakbola Italia (FIGC). Proses perubahan sepakbola Italia dinilai sangat lambat. Dalam 15 tahun terakhir, Italia gagal melahirkan mega bintang yang dapat diandalkan. Penurunan itu terlihat dari jumlah penonton dan hengkangknya bintang-bintang bola dari kompetisi liga domestik, Serie A. Italia juga gagal memproduksi pemain muda berbakat. Seolah-olah Italia tidak bisa lepas dari kejayaan masa lalu.

Akibatnya, reformasi di tubuh tim nasiolan Italia tidak dilakukan secara menyuruh. Saat liga-liga lain berbenah, Serie A justru kian menurun. Klub-klub lokal mereka takdapat berbicara banyak di pentas liga Eropa; Liga Champions dan piala UEFA.

Sebetulnya, harapan untuk perbaikan terus dilakukan, terutama di klub-klub besar Italia. Pindahnya Juventus ke stadion baru dan akan diikuti oleh AS Roma dan AC Milan memberi harapan tersebut. Belum lagi,stok pemain baru asal Italia juga bertebaran di mana-mana. Bahkan, klub sekelas Atalanta mampu memproduksi pemain muda berbakat. Berdasarkan sejumlah survei, Atalanta punya 22 pemain yang dibina sejak awal. Mereka merumput di liga-liga bergengsi di daratan Eropa.

Belum lagi, hijrahnya mega bintang Portugal, Cristiano Ronaldo ke Juventus diyakini akan mendongkrak popularitas Serie A. Sudah menjadi rumus umum bila, keberadaan bintang-bintang bola di suatu kompetisi akan memicu adrealin persaingan. Keputusan mendatangkan Ronaldo ke Juventus Arena menjadi pilihan tepat, meski harus diboyong dengan harga yang sangat mahal.

Tapi, ini baru langkah awal. Setidaknya, adanya upaya untuk melakukan perubahan besar-besaran akan menjanjikan situasi yang lebih baik. Publik sepakbola Italia menaruh rasa optimistis atas langkah-langkah klub besar tersebut. Kompetisi di liga domestik dan pembinaan pemain muda menjadi pelajaran penting agar Italia tidak mengulangi kenyataan pahit tidak lolos ke piala dunia.